Website

Search

Apa Itu Employer Branding dan Bagaimana Cara Menerapkannya?

Apa Itu Employer Branding dan Bagaimana Cara Menerapkannya?

Risers, pernah nggak ketika kamu scrolling di social media, lalu muncul konten tentang keseruan karyawan di tempat kerja nya? Biasanya nama akun media sosial nya suka ada kata ‘life at’. Nah itu adalah salah satu cara untuk menarik perhatian kandidat melalui employer branding. Kenapa perlu?

Menurut survei dari LinkedIn, 75% pencari kerja akan meneliti reputasi perusahaan sebelum melamar, dan 52% akan mengurungkan niat jika menemukan ulasan negatif dari karyawan di media sosial. 

Ini membuktikan bahwa persepsi publik tentang tempat kerja kita sangat menentukan berhasil atau tidaknya proses rekrutmen.

Terus gimana sih cara nerapinnya? Baca selengkapnya di artikel ini yah..

Baca juga: 7 Tips Sukses Menghadapi Walk-In Interview untuk Pemula

Apa Itu Empolyer Branding?

screenshot-376-life-at-1.png
Contoh Instagram Employer Branding dari Harisenin - @lifeatharisenin

Secara sederhana, employer branding adalah citra atau reputasi perusahaan sebagai tempat bekerja di mata calon maupun karyawan yang sudah ada. Ini mencakup budaya kerja, nilai-nilai perusahaan, gaya kepemimpinan, hingga pengalaman sehari-hari di kantor.

Dulu, employer branding dibangun melalui media tradisional dan kampanye formal. Kini, siapa pun bisa membentuk narasi tentang perusahaan, baik positif maupun negatif, hanya dengan satu postingan TikTok atau LinkedIn.

Kamu sering lihat kan, tren video kayak "a day in my life as a junior UI designer" misalnya yang memperlihatkan suasana kantor, jam kerja fleksibel, hingga fasilitas makan siang. Konten seperti ini seringkali mendapat ribuan view karena menyajikan cerita yang jujur dan relatable. 

Platform yang Cocok Untuk Employer Branding

screenshot-377.png
Contoh Kontent Employer Branding di @lifeatharisenin

Setiap platform juga punya kekuatannya masing-masing, ini beberapa platform yang bisa rekomendasikan:

  • LinkedIn yang lebih cocok untuk membangun kredibilitas profesional. Karyawan bisa berbagi insight, pencapaian, atau nilai budaya yang mereka rasakan. 

  • TikTok lebih ke sisi emosional dan autentik. Konten behind the scenes, keluhan kecil yang lucu, atau momen bonding antartim bisa memperlihatkan wajah humanis dari perusahaan.

  • Instagram lebih cocok untuk konten yang bertajuk daily life maupun vlog, agar lebih engaging ke target audience

Menurut laporan DataReportal (2025), pengguna aktif TikTok di Indonesia mencapai 126 juta, dan 70% di antaranya berusia 18-34 tahun. Ini artinya, employer branding yang kuat di TikTok bisa menjangkau talenta muda yang jadi target utama banyak perusahaan saat ini.

Baca juga: Cerita Lulusan Ilmu Pemerintahan yang Kerja Jadi HRD

Employee Advocacy: Ketika Karyawan Jadi Duta Perusahaan

Employee advocacy adalah ketika karyawan secara sukarela membagikan pengalaman mereka tentang tempat kerja di media sosial. 

Ini bisa berbentuk postingan positif, cerita inspiratif, atau bahkan testimoni tentang proses pengembangan karier mereka.

Hal ini jadi penting karena menurut Nielsen Global Trust Report (2023), 92% konsumen lebih percaya pada rekomendasi dari individu (termasuk karyawan) dibanding pesan dari brand itu sendiri.

Di sinilah perusahaan harus cerdas, daripada hanya fokus pada promosi satu arah, lebih baik fasilitasi dan dorong karyawan untuk bercerita. Bukan dengan paksaan, tapi dengan menciptakan lingkungan kerja yang memang pantas untuk dibanggakan.

Baca juga: Apa Itu Human Resources (HR) dan Sepenting Apa Perannya Untuk Perusahaan?

Tantangan Employer Branding di Era Digital

Meskipun potensinya besar, employer branding saat ini juga menghadapi berbagai tantangan, diantaranya:

  • Keterbukaan yang rentan disalahartikan. Konten viral bisa jadi bumerang jika muncul dari karyawan yang kecewa.
  • Kontrol narasi yang terbatas. HR nggak bisa lagi sepenuhnya mengatur apa yang orang pikirkan tentang perusahaan.
  • Harapan yang tinggi dari generasi muda. Gen Z punya ekspektasi terhadap work-life balance, transparansi, dan nilai sosial yang tinggi.
     

Oleh karena itu, employer branding yang otentik jauh lebih penting dibanding sekadar tampilan luar yang dipoles. 

Karyawan bisa membedakan mana budaya yang benar-benar dijalankan, dan mana yang hanya ada di halaman karier.

Baca juga: Kenalan Dengan Role Talent Development

Strategi Employer Branding yang Relevan di 2025

Lalu, bagaimana cara membangun employer branding yang kuat dan berkelanjutan? Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan:

1. Libatkan karyawan dalam narasi. 

Buka ruang bagi mereka untuk berbagi cerita—baik melalui konten resmi perusahaan atau akun pribadi mereka. Perusahaan bisa menyediakan program "employee spotlight" atau "takeover story" di media sosial resmi.

2. Fasilitasi pelatihan personal branding. 

Karyawan yang percaya diri membangun citra profesionalnya cenderung lebih aktif membagikan pengalaman positif kerja mereka.

3. Bangun budaya kerja yang layak dibagikan. 

Employer branding yang paling kuat datang dari pengalaman nyata. Pastikan hal-hal seperti fleksibilitas kerja, dukungan mental health, dan pengakuan atas kontribusi karyawan benar-benar dijalankan.

4. Kolaborasi lintas tim. 

HR, corporate communication, dan tim konten harus saling terhubung untuk menciptakan narasi employer branding yang konsisten dan menarik.

5. Pantau dan respon percakapan online. 

Gunakan tools seperti Brandwatch atau Sprout Social untuk memahami bagaimana publik memandang perusahaan dan kapan perlu ikut terlibat dalam percakapan.

Studi Kasus: Employer Branding yang Sukses

Beberapa perusahaan di Indonesia mulai berhasil memanfaatkan potensi ini. Misalnya, Traveloka secara aktif menampilkan cerita karyawan lewat kampanye “Life at Traveloka” di Instagram dan TikTok mereka. Cerita-cerita ini dikemas dengan storytelling ringan, memperlihatkan budaya kerja yang dinamis dan kolaboratif.

Lalu, Gojek pernah merilis seri video pendek yang menampilkan berbagai profesi di balik layar aplikasi, lengkap dengan tantangan dan insight pekerjaan mereka. Ini memberi gambaran realistis sekaligus membangun rasa hormat publik terhadap tim di balik teknologi.

Contoh seperti ini menunjukkan bahwa employer branding bukan tentang menyembunyikan kekurangan, melainkan tentang menunjukkan upaya nyata perusahaan dalam menciptakan tempat kerja yang baik.

Baca juga: Perbedaan Upskilling dan Reskilling: Strategi Penting Menghadapi Masa Depan Dunia Kerja

Sudah Siap Memperkuat Employer Branding Perusahaanmu?

Kalau kamu bekerja di HR, communication, atau bahkan seorang karyawan yang bangga dengan tempat kerjamu, mungkin sudah waktunya kamu jadi bagian dari narasi employer branding itu sendiri.

So, walaupun strategi employer branding datang bukan (hanya) dari HR, melainkan kerjasama lintas tim, tapi kamu harus tahu kalau HR juga punya peran penting dalam menjalankan strategi ini, yaitu membangun dan mempertahankan “budaya kerja positif” yang sudah dicitra-kan.

Nah, sebagai HR kamu harus bisa menjalankan tanggung jawab itu, karena kalau bukan kamu divisi mana lagi yang bisa menanggung tanggung jawab itu.

Kalau kamu merasa masih harus banyak belajar soal dunia Human Reource atau kamu masih ragu buat pilih jalan karier ini, kamu bisa banget berlajar dengan ikutan Bootcamp.

Di harisenin.com tersedia Bootacamp Human Resource yang bisa kamu ikuti, dengan materi yang sangat up to date kamu bakal diajarin sama HR expert. Selain itu, kamu juga bakal dibantu untuk kerjar karier HR yang kamu mau.

Jadi tunggu apa lagi? Buruan daftar bootcampnya sekarang dan raih kareir yang kamu mau sekarang!

Nabiilah __

Nabiilah __