Bahasa:

Search

3 Cara Efektif Kurangi Bounce Rate pada Website

  • Share this:
3 Cara Efektif Kurangi Bounce Rate pada Website

Alat-alat website analytic biasanya mengikutsertakan bounce rate sebagai salah satu metriknya. Dan untuk hal ini, orang-orang cenderung menginginkannya dalam angka yang rendah dan melakukan berbagai cara untuk menurunkan bounce rate.

Bounce rate pun merupakan indikator yang menunjukkan persentase pengunjung website yang hanya mengunjungi satu halaman (single-page session). Setelah mengunjungi satu halaman tertentu, mereka memilih menutup atau meninggalkan website. 

Angka bounce rate pun kemudian dapat diperoleh dengan membagi jumlah pengunjung single-page session dengan total kunjungan pada jangka waktu tertentu.

Di sisi lain, pemilik website pada umumnya akan menginginkan hal sebaliknya. Mereka tentunya mau agar orang berselancar pada websitenya dalam waktu lama dan menelusuri apa yang mereka tawarkan. 

Pada pebisnis yang menawarkan produk, ketertarikan mengunjungi website ini harapannya bisa membawa kepada hal yang lebih jauh. Hal tersebut tidak lain adalah tindakan konversi, entah untuk mendaftar pada newsletter hingga membeli produk.

Berikut ini adalah cara-cara yang bisa dilakukan untuk menurunkan bounce rate, Risers. Simak penjelasannya, ya!

Meningkatkan User Experience

Cara Menurunkan Bounce Rate dengan Meningkatkan User Experience - Pixabay
Sumber: Pixabay


 User Experience (UX) merupakan segala bentuk interaksi antara user dengan produk kita. Kita sudah pasti menginginkan hal ini baik keadaannya. Dan pada kasus ini, page speed dan UX design dari website yang menjadi perhatian. 

User cenderung membutuhkan waktu singkat untuk menentukan apakah ia memilih tinggal atau menetap pada website. Dan dengan kondisi ini, page speed yang lambat dan navigasi website yang buruk hanya akan semakin mendorong mereka untuk pergi. 

Hal ini bahkan bisa terjadi dalam hitungan waktu detik!

Maka dari itu, pastikan bahwa website kamu memiliki page speed yang tidak terlalu lama. Kamu dapat mengusahakannya dengan melakukan minify file CSS, JS, dan cara-cara lainnya.

Adapun dalam proses interaksi user dengan bisnis (yang diwakilkan dengan website), desain website dapat berperan antara memudahkan atau menyulitkan UX. Oleh karena itu, melupakan hal ini sudah pasti sangat disayangkan. Terutama jika dalam kasusnya pengunjung yang ada sebetulnya memang merupakan target pasar kita.

Oleh karena itu, meningkatkan UX menjadi salah satu poin cara untuk menurunkan bounce rate. Dibanding menggunakan struktur atau layout website yang rumit, desain yang simpel bisa menjadi pilihan. 

Sesuatu yang minimalis akan lebih memudahkan orang untuk menangkap hal yang memang benar-benar penting. Manfaatkanlah hal ini pada website kamu. 

Baca Juga: Cerita Imam : Harisenin.com Bantu Mengejar Impianku Menjadi Digital Marketer

Buat Pengunjung Betah

Cara Menurunkan Bounce Rate dengan Konten yang Kreatif - Pixabay
Sumber: Pixabay

Mari mencoba menganalogikan website sebagai rumah sementara pengunjung sebagai tamu.

Agar tamu ingin berlama-lama di rumah, kita tentu perlu membuatnya nyaman dan betah. Entah menyambutnya dengan sajian teh dan snack, atau bahkan sampai menawarkan hiburan yang mereka sukai. Kita akan menemani mereka dengan baik, ditambah dengan topik obrolan yang seru. 

Hal menjalankan website kurang lebih adalah hal yang mirip seperti hal di atas. Isi atau konten website yang kita buat dan tawarkan adalah sesuatu yang krusial. Oleh karena itu, buatlah pengunjung sebisanya menemukan hal-hal yang akan menggugah interest mereka. 

Sediakan konten yang berkualitas. Hal ini bisa dengan cara menyajikan visual yang bagus dan attractive. Namun perlu juga diingat agar file gambar ini tidak memiliki size yang terlalu berlebihan. Sebab, hal tersebut bisa berpengaruh negatif pada load speed website. 

Sementara dalam hal konten tulisan, kualitas dan panjang tulisan menjadi hal yang harus cukup diperhatikan. Website pada beberapa sumber dikatakan cenderung memiliki engagement yang baik jika mengandung 1000-2500 kata dalam satu halamannya. 

Kamu juga bisa memasukkan link-link yang relevan dan sekiranya akan dibutuhkan pengunjung. Seperti misalnya pada blog website, kamu bisa menyisipkan link-link yang masih berhubungan dengan topik bahasan. Hal ini pun juga perlu dilakukan dengan batasan, sebab link yang terlalu banyak bisa terkesan mengganggu dari sisi pengunjung.

Baca Juga: Manfaat Digital Marketing Untuk CEO

Be Skeptical. Introspeksi Penyebab Tingginya Bounce Rate! 

Sumber: Pixabay

Hal ini sebenarnya termasuk penting. Namun dalam banyak aspek, seringkali hal menelusuri penyebab menjadi hal yang terlewatkan.

Melakukan semua tips dan trik yang bisa ditemukan di internet pun nampaknya bukan pilihan yang terlalu bijak. Hal tersebut sudah pasti akan menguras baik tenaga dan resource yang dipunya. Padahal di saat yang sama, hal tersebut bisa dialokasikan untuk hal yang lebih berguna lainnya. 

Dibanding dengan itu, kita bisa menelisik root cause dari banyaknya pengunjung yang meninggalkan website kita. 

Kamu dapat mengamati lebih jauh Google Analytics yang terhubung pada website-mu. Pada analytics tersebut akan terdapat average bounce rate website dan juga individual page’s bounce rate.  

Average bounce rate yang tinggi pun perlu disadari sebagai hal yang selamanya bertanda buruk, Risers. Sebab kenyataannya angka tersebut adalah rataan dari keseluruhan halaman website. 

Maka, bisa jadi angka yang tinggi itu salah satunya dipengaruhi oleh tingginya bounce rate dari halaman yang perannya tidak signifikan. Jika begitu, kamu bisa untuk mengeluarkan halaman tersebut dari perhitungan.

Jika kamu menemukan tingginya individual page’s bounce rate di halaman yang berperan penting (misalnya landing page), maka pusatkanlah optimalisasi pada halaman itu. 

Baca Juga: 8 Kemampuan Google Analytics yang Harus Kamu Tahu!

Celine Anastasya

Celine Anastasya