Search

Sekilas Tentang Keuangan Syariah: Pengertian, Prinsip, dan Akadnya

  • Share this:
Sekilas Tentang Keuangan Syariah: Pengertian, Prinsip, dan Akadnya

Ekosistem keuangan syariah di Indonesia dapat berpeluang untuk terus berkembang dalam waktu ke depan. Hal tersebut dikarenakan sekitar 86,9% dari total populasi penduduk di Indonesia merupakan pemeluk agama Islam per 31 Desember 2021.

 

Berdasarkan laporan OJK, pertumbuhan aset keuangan syariah juga terus meningkat pada tahun 2019-2021. Pada tahun 2019, aset keuangan syariah tercatat sebesar Rp1.468,07 triliun. Pada tahun 2020, naik 22,71% menjadi Rp1.801,40 triliun. Dan terakhir pada tahun 2021, aset keuangan syariah tumbuh 13,82% menjadi Rp2.050,44 triliun.

 

Dari pertumbuhan aset tersebut menandakan bahwa minat masyarakat untuk melakukan transaksi keuangan syariah terus mengalami peningkatan. Keuangan syariah mempunyai segmen pasar yang baik dengan peluang dan potensi yang terus bertumbuh.

 

Namun, apakah kamu sudah mengenal lebih banyak mengenai keuangan syariah? Kalau belum, mari simak ulasan berikut!

 

Pengertian

Keuangan syariah adalah sistem pengelolaan keuangan yang berpedoman terhadap prinsip-prinsip Islam. Prinsip-prinsip tersebut termuat dalam sumber-sumber hukum Islam seperti Al-Qur’an, Hadits, Ijma, dan Qiyas.

 

Penerapan keuangan syariah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan keuangan konvensional. Sama-sama meliputi penghimpunan dan pengalokasian dana masyarakat.  Akan tetapi, di dalam keuangan syariah terdapat batasan-batasan tertentu di dalam beberapa hal.

 

Prinsip Operasional Keuangan Syariah

Menurut Mardani (2015), keuangan syariah harus beroperasi sesuai dengan prinsip syariah, yakni menjalankan kegiatan operasional yang tidak mengandung unsur-unsur berikut:

 

  • riba: tambahan pendapatan yang tidak sah, seperti pertukaran barang sejenis yang tidak sama secara kualitas, kuantitas, dan waktu penyerahan (riba fadhl) atau melakukan transaksi pinjam meminjam dengan syarat pengembalian dana yang melebihi pokok pinjaman dikarenakan melewati jangka waktu pengembalian (riba nasi’ah)
  • maysir: transaksi yang bergantung terhadap hal yang tidak pasti dan sifatnya untung-untungan
  • gharar: transaksi dengan objek yang tidak jelas, tidak dimiliki, tidak diketahui keberadaannya, atau tidak diserahkan pada saat transaksi
  • haram: transaksi yang objeknya dilarang dalam Islam
  • zalim: transaksi yang mengakibatkan ketidakadilan bagi pihak tertentu

Keuangan syariah juga harus memenuhi beberapa prinsip yakni:

  • keadilan (‘adl): keuangan syariah harus memberikan sesuatu pada yang berhak dan menempatkan sesuatu pada tempatnya
  • keseimbangan (tawazun): keuangan syariah harus menciptakan lingkungan yang seimbang dalam aspek spiritual dan material, privat dan publik, sektor keuangan dan sektor riil, serta bisnis dan sosial.
  • maslahat: kegiatan keuangan syariah harus dilakukan dalam rangka kebaikan dan membantu kepentingan orang banyak
  • universalisme (‘alamiyah/rahmatan lil ‘alamin): keuangan syariah tidak membeda-bedakan individu berdasarkan suku, ras, agama, dan golongan tertentu


Akad Keuangan Syariah

Akad diartikan sebagai perjanjian tertulis/lisan yang memuat ijab (serah) dan qabul (terima) antara pihak yang bertransaksi disertai hak dan kewajiban masing-masing berdasarkan kaidah-kaidah syariah. Akad bisa disebut dengan kontrak. Jenis akad yang sering terjadi dalam keuangan syariah antara lain:

 

Wadi’ah

Wadi’ah adalah akad penitipan dana atau barang dari pihak pemilik kepada pihak yang diberi titipan dengan kewajiban pihak yang menerima titipan harus mengembalikan titipan tersebut sewaktu-waktu.

 

Mudharabah

Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak. Satu pihak sebagai penanam modal (shahibul maal) dan pihak lainnya sebagai pengelola modal (mudharib). Dalam mudharabah terdapat pembagian untung rugi (profit-loss sharing) yang besarannya ditentukan sesuai nisbah (rasio pembagian) yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Apabila terjadi kerugian maka sepenuhnya kerugian tersebut ditanggung oleh pemilik modal. Kecuali jika terjadi human error dari pihak pengelola modal, maka kedua pihak sama-sama menanggung kerugian.

 

Musyarakah

Musyarakah juga merupakan bentuk kerjasama usaha, namun pihak-pihak yang terlibat sama-sama berkontribusi dalam penanaman dan pengelolaan modal. Dalam musyarakah juga terdapat bagi hasil dengan nisbah yang telah disepakati. Apabila untung atau rugi, maka pihak yang terlibat sama-sama menanggungnya.

 

Ijarah

Ijarah adalah akad sewa-menyewa atau upah-mengupah dalam waktu tertentu yang disertai pembayaran sewa atau imbalan upah atas jasa yang telah diberikan.

 

Salam

Salam adalah akad jual beli yang mana penyerahan barangnya dilakukan di waktu kemudian dan proses pembayarannya harus lunas secara tunai terlebih dahulu. 

 

Istishna

Istishna merupakan akad jual beli dalam bentuk pemesanan dan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan spesifikasi yang telah disepakati oleh pihak yang bertransaksi. Istishna bisa disamakan dengan istilah transaksi pre-order di zaman sekarang.

 

Murabahah

Murabahah adalah akad jual beli barang yang mana besaran harga pokok barang ditambah dengan margin keuntungan yang telah disepakati.

 

Qardh

Qardh adalah akad pinjam meminjam secara sukarela disertai kewajiban bagi pihak peminjam untuk mengembalikan pinjaman secara sekaligus atau dicicil dalam jangka waktu tertentu. Besaran pinjaman yang dikembalikan harus tetap dan tidak boleh melebihi besarnya pokok pinjaman.

 

Sektor Keuangan Syariah

Industri keuangan syariah memiliki beberapa sektor. Sektor-sektor tersebut yaitu:

 

Bank Syariah

Bank syariah adalah bank yang dalam kegiatan operasionalnya menerapkan prinsip-prinsip syariah. Kegiatan operasional bank syariah hampir sama seperti bank pada umumnya yaitu meliputi penghimpunan dan penyaluran dana nasabah. Tetapi bank syariah tidak memperbolehkan transaksi yang mengandung unsur ribaghararmaysir, haram, dan zalim. Bank syariah juga hanya melakukan pembiayaan terhadap usaha yang halal.

 

Pasar Modal Syariah

Pasar modal syariah merupakan kegiatan yang berkaitan dengan perdagangan efek syariah dari suatu perusahaan publik yang mana dalam produk dan kegiatan operasionalnya tidak bertentangan dengan prinsip syariah. 

 

Produk pasar modal syariah terdiri dari saham syariah, reksadana syariah, sukuk (obligasi syariah), Efek Beragun Aset (EBA) syariah, dan Dana Investasi Real Estate (DIRE) syariah. Di dalam pasar modal syariah, baik efek dan emiten (perusahaan penerbit efek) harus memenuhi aturan-aturan syariah dan terhindar dari unsur MAGHRIB (Maysir, Gharar, dan Riba).

 

Asuransi Syariah

Asuransi syariah merupakan upaya preventif dan tolong-menolong antar beberapa pihak untuk menghadapi sebuah risiko yang berdasarkan kaidah-kaidah syariah. Jenis asuransi syariah terdiri dari asuransi jiwa syariah, asuransi kerugian syariah, dan reasuransi syariah.

 

Dana Pensiun Syariah

Dana pensiun syariah adalah kegiatan pengelolaan program pensiun yang menjanjikan manfaat untuk waktu ke depan berdasarkan ketentuan-ketentuan syariah. 

 

Pembiayaan Syariah

Pembiayaan syariah merupakan kegiatan pembiayaan yang berdasarkan persetujuan antara perusahaan pembiayaan dengan pihak lain, dengan kewajiban pihak yang dibiayai harus mengembalikan pembiayaan tersebut dalam bentuk imbalan atau bagi hasil pada jangka waktu tertentu. Pembiayaan syariah juga tentunya harus berpedoman pada prinsip-prinsip syariah.

 

Nah, itulah tadi sekilas penjelasan mengenai keuangan syariah. Kita harus mendukung kegiatan keuangan syariah agar lebih berkembang. Sebab kegiatan keuangan syariah memiliki tujuan yang baik dan tidak membedakan individu berdasarkan suku, ras, agama, dan golongannya.

 

Dikarenakan keuangan syariah memiliki keterkaitan dengan literasi keuangan atau semacamnya, Harisenin kebetulan menyediakan Kelas Auditor & Financial Analyst bagi kamu yang ingin memperdalam ilmu keuangan secara umum mulai dari basic. Untuk info selengkapnya, yuk cek link di sini!

 

Sumber Referensi:

  • Mardani. (2015). Aspek Hukum Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia. Jakarta: Prenadamedia Group.
  • Rodoni, A. dan Hamid, A. (2008). Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta: Zikrul Hakim.
  • Sholihin, Ahmad I. (2010.). Pedoman Umum Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Soemitra, Andri. (2009.). Bank dan Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta: Kencana.

Ghulam Mannani

Ghulam Mannani